Bocoum : Jangan Bajunya yang Mahal, Seleranya

 In Ngobrol

Ahmad Nuhu Bocoum, Fashion Enthusiast yang Berbeda di Zaman yang serba Sama 

Bocum, (begitu sapaan akrabnya semenjak banyak orang-orang salah mengeja nama terakhirnya (bokum)) adalah seorang model yang tidak mau disebut model. Kenapa? Menurut Bocoum, model adalah mereka yang memang pekerjaannya  berjalan menggunakan busana perancang di sepanjang runway sedangkan Bocum ini tidak seperti itu. Bocoum memang memiliki minat di bidang fashion dan memilih untuk menyalurkan minatnya melalui channel sosial media Instagram. Berawal dari latar belakangnya di jurusan Bahasa ketika SMA, Bocoum melanjutkan studinya ke London School Public Relations dengan mengambil jurusan Public Relation.

Ketika kuliah, Bocoum dan hobinya which is belanja produk men fashion di toko-toko  hip ibukota seperti Otoko dan Monstore membawa image fashionable-nya untuk lebih ter-expose. Pada awalnnya, Bocoum diajak temannya untuk menjadi model produk fashion lalu Otoko dan Monstore, tempat yang ia sering jadikan target berbelanja juga mengajak Bocoum jadi model, dari sanalah artikel demi artikel produk fashion yang ia gunakan berhasil menjadi anak tangga yang membawanya naik hingga setinggi ini. Namun, tidak hanya Bocoum yang merasa diuntungkan, karena ia juga membantu mempromosikan produk yang ia pakai juga (kadang) secara sukarela.

Lahir dari keluarga berdarah Afrika, membuat Bocum memiliki tampilan fisik yang unik. Kulit hitam dan muka khas orang kulit hitam ia miliki membuat ia mudah dikenali oleh orang banyak. Selain itu untuk mempertegas Personal Branding nya, Bocum mendefinisikan identitasnya menggunakan fashion (style & look) yang ia gunakan. Walaupun Bocum menggemari brand internasional seperti Champion, tapi ia mau isi feeds instagram nya hanya local brand.. kenapa? Selain karena Bocoum sendiri menggemari produk lokal, juga karena Bocoum tidak mau followersnya ter-brainwashed menggunakan produk internasional dan menjauhi produk lokal yang tidak kalah kerennya.

Reputasi yang dibangun dengan lugas niscaya mendongkrak Kredibilitas

Soal gaya berpakaian, menurut Bocoum adalah kebutuhan dasar. Kebutuhan untuk bergaya hidup pamer janganlah melebihi kebutuhan untuk berpakaian itu sendiri. Menurut Bocoum, salah satu parameter dalam fashion adalah kenyamanan, nyaman untuk diri sendiri dan orang lain..”Gausa lebay, ngeliatnya gaenak”, dari Bocum untuk netizen yang sengaja berpakaian dari ujung kepala hingga kaki untuk pamer harga  tanpa mempedulikan sense of fashion dan kecocokan perpaduan produk yang digunakan.

Sudah menjadi prinsip Bocoum untuk bersikap jujur hanya menerima endorse produk yang bagus dan benar-benar ia sukai. Usaha Bocum untuk selalu autentik berhasil membuat Bocoum mempertahankan keunikannya sehingga dilirik oleh banyak orang, mulai dari teman-teman hingga followersnya yang memercayakan rekomendasi men’s fashion items pada Bocum dan  merujuk pada feeds instagramnya.

Bocoum tidak membatasi kariernya hanya sebagai fashion enthusiast, hobi berbisnis yang diturunkan ayahnya (ekspor produk Indonesia ke Afrika) membuatnya percaya untuk melebarkan sayap di dunia bisnis fashion tanah air.

Who You Surround Yourself With, You Become

Segala prestasi dan opportunity yang Bocum dapatkan di usianya yang ke 25 tahun ini, tidak terlepas dari circle of friends and mentors. Lingkaran persahabatan Bocoum terdiri dari empat orang dari latar belakang yang berbeda-beda mulai dari pengusaha sukses, sahabat yang dijadikan guru dalam masalah percintaan hingga sahabat yang mempertanyakan keberadaan social media. Ya, begitulah enaknya keberagaman, bisa banyak belajar. Jumlah yang kecil membuat persahabatan mereka dekat dan walaupun berbeda Bocum tetap mendapatkan support dari sahabat-sahabatnya.

“Friend and bestfriend itu berbeda. Bestfriend itu keluarga. Kalo friend..Ada yang ngaku temen tapi mereka malah jadi orang-orang pertamanya yang ga percaya sama lo terus jadi orang-orang  terakhir yang ngucapin selamat ketika lo sukses.”

Selain sahabat, Bocoum juga reach out  ke mentor-mentor yang dirasa penting dihidup dan kariernya seperti fotografer Daniel Shepherd dan vlogger kondang ibukota, Arief Muhammad. Ya, intinya orang-orang yang positif dan senang berbagi ke-positif-annya.

Events yang keren di Mata Bocum

Bocoum, yang juga pernah berperan sebagai ex Ketua Panitia acara tahunan SMA nya melihat kekerenan sebuah event bisa dinilai dari :

1. What’s in there
Konser terakhir yang Bocum datengin adalah We The Fest, menurut Bocum WTF adalah salah satu konser lokal yang mampu menyaingi internasional. “WTF konsepnya OK ga cuma musik tapi juga ada game,  hal-hal kaya gitu yang bisa bikin orang lupa make gadgetnya. Itu keren banget sih”.

2. How they promote the event?
Siapa yang mereka percaya untuk membuat acaranya terdengar masyarakat. Pilih good influencer yang memang mampu merepresentasikan acara bukan yang bad influencer yang malah bikin orang-orang malas datang.

3. Who are the audiences
Untuk mereka yang ingin acaranya cepet naik fokuskan mengundang orang-orang yang kredibel dan dipercaya sebagai inisiator Words of Mouth.

Ya pokoknya Bocoum cukup bangga dengan events di Indonesia terutama Jakarta yang terus upgrade ke next level.

Breakdown Moment Mampu Teratasi ketika Jujur Kepada Diri Sendiri

Membahas glorious moment  kurang banget kalau tidak diungkap juga breakdown moment nya.. Siapa bilang Bocum langsung sukses seperti sekarang ini. Untuk berada di posisi sekarang, Bocoum melewati titik dimana ketika itu semua orang meragukannya. Mulai dari teman-teman kuliah yang merendahkan dan tidak percaya hingga orang tua sendiri yang kemakan omongan orang lain dan ikut meragukannya.

“Cuy, gue masih muda, biarin gue lakuin apa yang gue suka”

Orang-orang  memang hanya menilai dari apa yang mereka bisa lihat, mereka tidak tahu perjuangan apa yang Bocum lakuin buat menjalani pekerjaan sesuai passion nya itu.

Do something!

“Gue lakuin apa yang gue mau, gue ga lakuin apa yang orang lain suruh karena ga akan ada habisnya. Kalo lo ngelakuin yang lo ga suka, semua itu salah lo sendiri. Jadilah berbeda.”

Saran Bocoum buat Generasi Muda

Dulu kalau kita ke Mall dan melihat orang menggunakan pakaian yang sama, males kan? Bocum bingung kenapa sekarang orang-orang malah bangga menggunakan pakaian yang sama. “Mereka berlomba-lomba membeli produk karena harga” kata Bocum, “..harusnya..jangan bajunya yang mahal, seleranya.”. Setuju sama Bocoum, fashion enthusiast itu dilihat dari skill memadupadankan fashion itemsnya, bukan karena mahal langsung main dipakai. Selain itu, balik lagi ke dasar, penggunaan media sosial yang awalnya bertujuan untuk sharing moment kini digunakan untuk membuat branding yang tidak baik terhadap diri sendiri. Gunakan sosial media untuk membagi hal-hal positif dan jangan hanya mengikuti trend dan orang lain tetapi temukan diri lo sendiri!

0 Shares
Recent Posts

Start typing and press Enter to search

X
X