In News Update

Teater Pandora mementaskan pertunjukan terbaru mereka berjudul Jelaga, sebuah adaptasi dari naskah The Crucible karya penulis Amerika Arthur Miller pada bulan Januari ini. Disutradarai oleh Yoga Mohamad, pertunjukan ini digelar pada hari Kamis & Jumat, 25-26 Januari 2018 pukul 20.00 WIB di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Naskah karya Miller tersebut akan diadaptasi ke dalam nuansa dan kebudayaan Manado pada abad ke 19. Pemilihan naskah The Crucible dan proses adaptasinya ke dalam Jelaga sendiri telah dilakukan oleh Pandora sejak bulan Juli 2017 di kantor dan workshop mereka di Jl. Nurul Iman 52, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pemilihan kebudayaan Manado sebagai adaptasi dilakukan setelah melalui berbagai diskusi rutin, pertimbangan sejarah dan “kecocokan budaya” antara latar belakang kebudayaan yang ada di dalam The Crucible dengan kebudayaan Manado yang secara
umum sama-sama dipengaruhi oleh agama Kristen.

Ditulis pada tahun 1953, The Crucible merupakan alegori dari peristiwa Salem Witch Hunt yang pernah terjadi di desa Salem, Massachusetts, Koloni Amerika pada 1692-1693. Dalam peristiwa tersebut, terjadi sebuah histeria massa di mana orang-orang yang dituduh sebagai penyihir (witch) dihukum mati melalui proses “peradilan” berbasis agama (Puritanisme) yang penuh dengan prasangka, kolusi, dan manipulasi.

Miller sendiri menulis naskah The Crucible sebagai kritiknya terhadap kebijakan anti-komunisme di Amerika pada tahun 1950-an yang dicetuskan oleh senator Joseph McCarthy. Bahkan, di kemudian hari, paradigma persekusi terhadap orang-orang yang dianggap komunis ini dikenal dengan istilah McCarthyism. Istilah ini berarti “menuduh seseorang telah melakukan tindakan subversif tanpa bukti yang jelas.” Salah satu wujud nyata dari paradigma ini adalah HUAC (House of Representatives’ Un-American Activities Committee) atau Komite untuk Tindakan-Tindakan yang “Tidak Amerika” yang dibentuk oleh Kongres guna memberantas pemikiran dan gerakan komunisme di Amerika pada tahun-tahun awal Perang Dingin.

Salah satu target dari HUAC adalah para seniman, penulis, aktor, sutradara dan pekerja Hollywood. Pada tahun 1956, Miller sendiri pernah ditanyai oleh Kongres dan diminta untuk menyebutkan siapa saja rekan-rekannya di Hollywood yang diduga berideologi kiri. Namun Miller menolak untuk bekerja sama dan kemudian dianggap telah melakukan penghinaan terhadap Kongres. Dalam situasi politik seperti itulah Miller menulis The Crucible. Miller melihat bahwa orang-orang yang mengalami persekusi pada tahun 50-an di Amerika itu mirip keadaannya dengan mereka yang dituduh sebagai penyihir dalam peristiwa Salem Witch Hunt di abad ke 17: Miller menggambarkan mereka sebagai manusia-manusia yang mengalami persekusi dan harus dibakar di dalam “tungku api yang menyala” (crucible).

Melalui karya terbarunya ini, Teater Pandora berharap dapat memberikan tontonan yang menarik, berkualitas, dan bermakna bagi para penontonnya. Sesuai dengan semangatnya, Pandora ingin menyebarkan semangat berkarya anak muda Indonesia melalui bidang seni pertunjukan, khususnya teater. Dalam setiap proses kreatifnya, naskah terjemahan maupun naskah karya sendiri selalu dipentaskan dengan suatu kesadaran kebudayaan bahwa budaya Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, adalah ladang inspirasi kreatif yang tidak akan ada habisnya dan harus terus dirawat kebebasan serta keragamannya; dan bahwa setiap karya Teater Pandora selalu digali, ditempa, dan disajikan dengan kesadaran berkebudayaan yang demikian.

Berbagai adaptasi karya dunia ke dalam kebudayaan Indonesia telah dilakukan sebelumnya oleh Pandora, seperti karya Federico Garcia Lorca The Blood Wedding yang diadaptasi dengan gaya Batak dalam Pernikahan Darah pada tahun 2016; Marriage karya Nikolai Gogol ke dalam kebudayaan Jakarta tempo dulu dalam Perkawinan (2016); kemudian The Rainmaker karya Richard Nash ke dalam kisah kelompok miskin kampung dalam Seruni (2016); dan kini The Crucible karya Athur Miller ke dalam nuansa dan kebudayaan Manado abad 19 dalam Jelaga. Ini adalah usaha kecil dari kami untuk menunjukan bahwa karya Indonesia adalah karya dunia!

Selamat menonton!

Teater Pandora
Jl. Nurul Iman No. 52, Jagakarsa, Jakarta Selatan

Contact Us:
Maharani Megananda: 0812-9590-9007
Website: www.teaterpandora.com
Instagram: teaterpandora
Facebook: Teater Pandora
Twitter: @pandorateater

Recent Posts

Start typing and press Enter to search

X
X